Sejak memasuki usia 40 tahun, saya kerap berpikir bahwa saya sekian tahun lagi menuju usia setengah abad, begitu seterusnya hingga hari ini, saya hanya seminggu dan beberapa hari lagi menuju usia 50 tahun.
Ketika saya masih muda, saya suka berpikir bahwa saya ingin menjadi seperti ini, dan seperti itu ketika dewasa nanti. Sayangnya saya enggak membuat list mengenai impian saya dan menjabarkannya satu per satu. Jadi saya enggak bisa membuat evaluasi yang konkret untuk hidup saya yang akan memasuki tahun ke 51 ini. Tapi kalau saya pikir-pikir, paling-paling impian saya yang terwujud baru 10-15 persen. Sisanya sebanyak 90-85 persen masih bisa saya jabarkan, tapi buat apa? Bukan karena sudah terlambat (saya nggak mengenal kata terlambat untuk sebuah proses hidup), tapi di usia seperti ini, saya lebih menghargai hal yang telah saya raih ketimbang masih terus bermimpi dan berangan-angan.
Saya mencoba menanamkan metode yang simpel pada ketiga anak saya Andhika, Adhit dan Abhi mengenai cita-cita masa depan. Mereka sudah mendapatkan banyak bekal dari almarhum ayahnya, tugas saya adalah menjaga dan menyempurnakan agar cita-cita itu tetap ada dan dapat diwujudkan. Ini bukan mengenai bagaimana menjadi attorney (Andhika & Abhi) atau engineer (Adhit) yang sukses, tapi bagaimana agar keluarga berjalan sesuai dengan hakekatnya. Terus terang, saya mungkin tidak menjalankannya dengan terlalu baik, tapi saya pantang menyerah untuk membuatnya supaya lebih baik.
Kembali lagi ke "Menjelang 50", banyak yang bilang saya freakishly young for this age. I think so... Di saat pada usia 50 banyak perempuan yang belum mempunyai cucu, tahun ini cucu saya akan berjumlah 5 orang. Di sinilah saya merasa usia 50 tahun saya, bukanlah usia 50 tahun mama saya. Saya telah banyak meluangkan waktu saya untuk mendatangkan energi positif bagi kehidupan pribadi saya dan keluarga saya, apalagi setelah suami saya meninggal lebih dari 4 tahun yang lalu. Saya bukan ingin terlihat muda secara fisik, tapi muda secara mental/jiwa. Seperti yang pernah ditulis menantu saya Adinda dalam blog pribadinya: sampai berapapun usia akan ditambah, saya ingin spirit saya tetap muda.
Beberapa orang akan menyebut hal tersebut sebagai 'denial'. Tetapi bagi saya, saya masih berjalan di sekitar usia pertengah 30. That's how I feel. So, as I'm walking closer to the mid-century mark this year, I have decided that I am very ready to turn 50 this year.
Senin, 27 April 2009
Selasa, 07 April 2009
Halo...
Hi there.... :) Nama saya mungkin familiar di blog anak saya Adhit dan istrinya Adinda. Sejak saya menjadi pembaca setia blog mereka, tiba-tiba saya pernah tergerak untuk menulis blog juga, namun belum saya kerjakan sampai sore ini. Banyak hal yang membuat saya mengurungkan niat saya itu, antara lain saya merasa sudah terlalu tua untuk hal beginian. Tapi saya pikir-pikir sih kita nggak pernah terlalu tua untuk bercerita. Malah biasanya semakin tua semakin banyak cerita.
Nama saya Agnes, tapi karena pronunciationnya Anyez, saya jadi sering nulis nama saya sendiri seperti itu. Emma, adalah panggilan pertama saya sebagai seorang nenek, berasal dari kata Gramma, tapi biar sedikit gaya diubah aja jadi Emma he he... Sekian dulu opening dari saya. Semoga blog ini bisa menjadi sarana saya mencurahkan uneg-uneg, merekam manis dan pahitnya hidup, hingga menjadi media komunikasi saya dengan dunia luar.
Nama saya Agnes, tapi karena pronunciationnya Anyez, saya jadi sering nulis nama saya sendiri seperti itu. Emma, adalah panggilan pertama saya sebagai seorang nenek, berasal dari kata Gramma, tapi biar sedikit gaya diubah aja jadi Emma he he... Sekian dulu opening dari saya. Semoga blog ini bisa menjadi sarana saya mencurahkan uneg-uneg, merekam manis dan pahitnya hidup, hingga menjadi media komunikasi saya dengan dunia luar.
Langganan:
Postingan (Atom)