Senin, 04 November 2013

Kemo demi kemo

Saya sudah menjalani kemo(terapi) keempat. Sampai di titik ini, saya masih yakin kemo masih yang terbaik untuk tubuh saya. Banyak kawan sudah merekomendasikan jalan tradisional tapi... bukannya saya nggak percaya dengan jalan tradisional... saya percaya saya lebih mampu untuk menempuh jalan kemo. Setidaknya untuk saat ini.

Saya bilang ke diri saya: Keep positive. Keep optimist.

Setelah kemo pertama yang hampir nggak ada efek negatifnya buat saya (dari segi fisik), saya mulai diterjang kerontokan beberapa hari setelah kemo kedua. Jujur setelah kemo pertama, saya menantikan kapan rambut saya akan rontok. Ternyata efek kerontokkannya tidak begitu cepat. Namun ketika sudah rontok, hanya butuh waktu seminggu untuk menjadi botak. Completely bald. Hairless.

Namun karena saya sudah siapkan mental (dan bahkan sedikit menantikan saat botak ini) saya nggak stress menghadapinya. Apalagi si bungsu Abhi juga langsung botakin kepalanya. Dia bilang, dia mau ikutan botak sampai saya tumbuh rambut lagi.

Mantu saya, istrinya Abhi yang lagi hamil malah ikutan menghibur saya dengan mengajarkan saya bikin alis pakai pencil alis di awal-awal kebotakan ini.

Lantas parah dan sakitnya kemo benar-benar baru menyerang saya setelah kemo ketiga dan keempat. Saya mulai sariawan di mulut dan kerongkongan yang menyebabkan saya susah makan dan minum. Lalu saya berpikir, jika saya tidak makan dan minum, saya akan menjadi kurus. Setelah itu penampilan jadi rusak karena saya kurus dan kurang gizi. Jadi sesakit apapun saya mengunyah dan menelan, saya tetap paksakan untuk makan dan minum. Saat kondisi ini terjadilah banyak orang-orang langsung merekomendasikan saya berhenti kemo dan jalan ke pengobatan tradisional saja. Tapi saya melanjutkan kemo saya.

Tinggal 2 kemo lagi, lalu saya akan operasi. Setelah itu lanjut 6 kemo lagi.

Masih panjang ya perjalanan? Tapi selalu ada karunia Allah SWT yang membuat saya ikhlas menjalaninya. Masih banyak hal lainnya yang bikin saya tersenyum dan gembira. So, mengapa saya harus meributkan kemo? Jalani saja!

Jumat, 13 September 2013

Menyelami wanita yang hatinya dipatahkan, meniti kembali kisah 35 tahun lalu

Sambil membaca tulisan terakhir Maya (misswhadevr.blogspot.com) kemarin saya seperti meniti kembali masa 35 tahun silam dimana saya masih di akhir masa remaja dan menjalin hubungan dengan laki-laki matang & mapan berusia 13 tahun lebih tua dari saya. Sungguh sebuah hubungan yang mustahil dan penuh dengan rintangan. Tetapi saat itu ada satu hal yang membuat saya mampu membulatkan tekad untuk menikah pada umur 20 tahun yaitu sebuah kata bernama 'Pengabdian'.

Saya mengenai Maia lebih dari 10 tahun lalu saat dia menjadi pacar pertama yang dikenalkan oleh salah satu anak saya. Harapan saya untuk punya anak perempuan tidak terwujud, maka kehadian Maya saat itu membuat saya seperti merasa mendapatkan hadiah yang tertunda. Saya melihat banyak kesamaan antara saya dan Maya baik dulu dan sekarang. Dimatanya selalu terpancar rasa bangga saat bercerita tentang hubungan dengan pacarnya (baik waktu pacarnya anak saya ataupun sesudahnya) dan di dalam ceritanya ada unsur 'Pengabdian'. Sungguh aneh rasanya saat melihat dia sudah tumbuh besar, mapan, berkarir namun masih ada unsur 'Pengabdian' kepada laki-laki yang mungkin akan menjadi calon pendamping di hidupnya.

Dia menamakannya sebagai 'break up'... akhir dari hubungannya dengan seseorang. Saya menempatkan diri saya dan mencoba merasakan apa yang ia rasakan. Ah ia pasti sedih... tidak ada wanita yang berharap hubungannya kandas. Perasaan sedih disusul dengan pertanyaan yang sering kali diulang hingga mendapatkan jawaban yang puas... "Apa salahku? Apa yang kurang dari diriku?" seolah-olah memutar balik semua pengorbanan yang telah ia lakukan untuk mantan kekasihnya saat dulu masih bersama-sama. Pastinya hatinya sakit tersayat... ia hanya mencoba tegar dengan tersenyum pada semua orang agar air matanya tidak tumpah dan ia tidak terlihat lemah.

Sama seperti wanita kebanyakan dan juga saya yang pernah muda... ia pasti menyimpan amarah. Marah atas kejadian ini. Menyesal... mungkin... tetapi ia akan memaksakan diri untuk tidak merasa menyesal. dan mungkin sebelum tidur ia akan berdo'a agar Allah melepaskan rasa sakit dari hatinya, beban dari pundaknya dan pikiran negatif dari kepalanya sehingga ia bisa bekerja dengan baik keesokan harinya.

Mungkin... pada banyak kesempatan... ia bertanya-tanya... apakah hikmah di balik semua ini?

Memiliki 3 orang putra membuat saya selalu mewanti-wanit mereka betapa 'vulnerable' nya hati seorang perempuan. Jangan disakiti, dan lindungilah hati mereka. Jangan memberikan harapan palsu, jangan nodai jiwa raganya, jangan lukai cintanya sampai ia menangis. Saya pernah bilang pada Abhi, satu-satunya waktu dimana wanita menangis karena kamu, adalah saat kamu meletakkan cincin di jari manisnya.

Untuk wanita yang dipatahkan hatinya... Badai akan berlalu suatu saat... Seorang wanita akan menemukan laki-laki yang layak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya. Mungkin orang lain, mungkin orang lama yang akan kembali, atau mungkin dia yang membuatmu saat ini menangis.

Namun untuk sekarang, biarkan ia berpikir sampai ia sadari hal-hal apa yang akan ia lewatkan dengan melepaskanmu...

Kamis, 12 September 2013

Saya, kasih sayang seorang perempuan, pecinta abadi, dan kanker

Saya tidak lupa kalau saya punya blog, hanya saja meninggalkan jejak kaki dalam sebuah blog bukan preferensi utama saya karena saya lebih senang meniti kembali hidup saya dalam sebuah tulisan. Gambar. Bukan tulisan.

Tetapi, ada kalanya gambar hanya dipahami oleh saya seorang pelukis. Berbeda dengan tulisan yang lebih mudah menghantarkan pesan. Ada ratusan gambar yang pernah saya buat dan saya yakin... tidak lebih dari 10 gambar yang mampu dipahami oleh anak-anak saya. Maka suatu hari saya membuat blog ini, mulai mencoba untuk menulis supaya anak-anak saya bisa membaca 'lukisan hati' saya ini.

Saat ini 10 tahun telah berlalu sejak papa (suami saya) meninggal. Sudah bertahun-tahun pula anak-anak saya meminta saya untuk membuka hati pada orang lain. Saya ikhlas suami saya pergi... tetapi saya tidak kehilangan papa karena saya selalu melihat papa 'hidup' di dalam ketiga anak kami. Saya tidak kehilangan... untuk apa saya mencari seorang pengganti?

Ada kalanya saya menangis sendiri karena Andhika, Adhit dan Abhi memilih untuk tinggal di luar Indonesia dan akhirnya membawa saya dalam kesepian malam. Tetapi obat rindu berupa telepon tengah malam, BBM, atau whatsapp akhirnya mengobati semua. Mama cukup hidup dengan itu. Mama bangga terhadap anak-anak mama. Hanya satu keinginan mama sebelum mama 'pergi', mama ingin putra bungsu mama (Abhi) berkeluarga. Alhamdulillah, Abhi telah berkeluarga.

Saya bersyukur diberikan keturunan yang sehat, cantik juga ganteng. Setelah ketiga anak saya laki-laki, akhirnya saya juga mendapatkan banyak cucu perempuan (dan seorang cucu perempuan lagi!). Saya pergi ke amerika (tempat Andhika) untuk memastikan dia menjaga dan merawat keluarganya seperti papa merawat keluarga kami dulu. Saya pergi ke belanda (tempat Adhit untuk melakukan hal yang sama). Dan akhirnya saya pun mendapatkan 'surprise' terakhir dari Abhi saat dia memutuskan untuk menikah. Do'aku dijabah Allah... Papa... seandainya kamu ada di sini...

Hidup saya bahagia... Ya, meskipun saya baru berusia 44 saat ditinggal oleh papa (papa berusia 13 tahun lebih tua) hidup saya penuh kasih sayang dari Allah. Dengan sedikit teguran dan musibah saya merasakan betapa Allah sangat sayang pada saya. Dengan memisahkan anak saya berpuluh ribu kilometer dengan saya, saya jadi lebih mengerti arti pertemuan. saya lega dan bahagia, meski akan lebih bahagia lagi jika papa ada di sini melihat anak-anaknya tumbuh.

Mereka memang masih baru menyelami kehidupan berumah tangga tetapi saat mereka mengucapkan ijab qabul, saya sepenuhnya menyerahkan masa depan mereka pada mereka masing-masing. Saya tetap seorang ibu, mereka tetap anak-anak saya, tetapi hanya kasih sayang yang akan tetap kami jalin, di luar itu mereka bebas mengepakkan sayapnya masing-masing.

Hari ini tepat tiga puluh hari setelah saya didiagnosa menderita kanker rahim. Stadium III. Saat menantu saya Adinda menangis, saya menghapus air matanya dan berkata pada dia "Mama tidak akan menyerah... tapi waktu mama untuk mengasuh Adhit memang sudah selesai. Sekarang giliran kamu." Memang seperti itu adanya... Saat anak-anakku mengucapkan ijab qabul, berakhir sudah waktuku untuk mengasuh mereka. Mereka akan menanggung hidup istrinya, dosa-dosanya, maka berbaktilah istri-istrinya pada anak-anakku.

Untuk papa... cinta hanya sebuah kata-kata yang sulit ditunjukkan dengan perbuatan selain kesetiaan. Pada akhirnya kesetiaanlah yang akan berdiri di atas cinta mengalahkan segalanya. Namun aku di sini tidak mendapatkan pengganti bukan karena aku setia... tetapi cintaku untuk papa memang tidak pernah padam. Tidak akan pernah padam.

Sabtu, 06 November 2010

Dari mama buat anak-anak

Assalamu 'alaikum Andhika, Adhit, dan Abhi

Mama nulis ini sambil enggak kebayang kapan kalian akan ngebacanya. Maybe today, tomorrow, next year, I have no idea, tapi kapan pun kalian baca ini, mama tetep sayang sama kalian.

Hari ini mama ke makam papa. Udah 6 tahun sejak kepergian papa. Di sana mama ngomong banyak sama papa, soalnya mama kangen banget sama papa hiks... sampai cerita mama ngelantur, dan sadar-sadar, mama lagi ceritain papa tentang kalian semua.

Mama bilang ke papa, kalau papa bisa istirahat yang tenang. Mama yakin juga papa udah ngeliat dari sana kalau kalian tumbuh jadi laki-laki yang pada ganteng, pada gagah kayak dirinya dulu. Eh mama juga cerita kalau dulu kita was-was sama kalian... punya 3 anak laki-laki yang mama papa takut bakal hura-hura mulu kerjaannya. Ternyata kalian bisa lho buktiin kalau kalian mampu menepis kekhawatiran mama dan papa. Papa pasti bangga banget kalian udah punya cara masing-masing untuk mengejar cita-cita masing-masing, Andhika dan Adhit udah bisa mandiri menafkahi keluarganya dan Abhi... mama baru mikir kapan kamu akan menikah, Nak? Kalau mau ikutin jejak kakak-kakakmu, harusnya tahun ini sampai juni 2011 ya hehehe... tapi mama enggak mau maksa kamu harus begini harus begitu, setiap orang kan ada jalannya masing-masing ya... Yang pasti-pasti aja untuk anak bungsu mama ini, bawalah wanita yang Shalihah agar kalian bisa selalu saling menuntun diri menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Amin...

Mama juga cerita ke papa kalau mama sempet tinggal bareng Adhit dan Abhi selama 2 tahun di Utrecht, makanya mama enggak sering ngunjungin papa. Kalau urusan mama di sini enggak banyak, mama lebih mending tinggal sama anak-anak mama, trus main setiap saat sama cucu-cucu mama, tapi belum saatnya kali ya. Mama sangat menantikan akhir tahun ini, Andhika pulang for good, dan semoga Adhit dan Abhi kelar urusannya masing-masing jadi juga bisa pulang. However do not take it seriously, jalanin dulu kehidupan kalian masing-masing.

Pesan mama dan pesan papa juga tentunya, enggak banyak-banyak:
1. Jangan lupa shalat! Bimbing dirimu sendiri dan keluarga untuk one step closer to God setiap setiap harinya. Meskipun Allah ada lebih dekat dari urat nadimu, setiap shalat yang kalian tinggalkan akan menjauhkan kalian dari Dia
2. Patuh dan dengarkan kata-kata orang yang lebih tua, karena sepintar apapun kalian, kalian masih kurang memiliki pengalaman dari orang yang lebih tua.
3. Tanggung jawab atas apapun keputusan kalian. Oleh karena itu, buatlah keputusan yang baik, sehingga kalian bisa menjalani hidup dengan lebih bijak dan bermakna.
4. Hargai waktu dan jangan pernah bermalas-malasan. Contoh papa kalian yang selalu ulet dan bisa memanfaatkan waktu dengan baik, because time is money. Penghargaan tinggi kalian untuk waktu akan membuahkan etos kerja yang baik. Ya kan, ya kan?
5. Jaga nama baik keluarga dan marga. Itu penting.
6. Hidup hemat. Karena hidup mewah enggak ada gunanya, di dunia ini hanya sementara. Persiapkan apa yang kalian butuhkan di masa tua kalian, apa yang akan istri & anak kalian butuhkan saat kalian meninggalkan mereka dan tentunya apa yang kalian butuhkan diakhirat nanti.

Pesan mama begitu aja. Mama yakin kalian udah nggak suka didikte dan menurut mama kalian udah tumbuh mandiri (eh tapi kalau ada pesan lagi nanti mama tulis-tulis lagi). Mama hanya bisa menambahkan do'a mama untuk mendampingi setiap usaha kalian supaya tumbuh jadi orang dewasa yang bijaksana dan berhasil di masa depan (bahagia dalam rumah tangga, kaya, dan selalu dekat kepada Allah S.W.T).

Do'a mama selalu menyertai kalian. Cium jauh untuk tiga anak mama yang ganteng.

Senin, 27 April 2009

Future dream & the youthful spirit

Sejak memasuki usia 40 tahun, saya kerap berpikir bahwa saya sekian tahun lagi menuju usia setengah abad, begitu seterusnya hingga hari ini, saya hanya seminggu dan beberapa hari lagi menuju usia 50 tahun.

Ketika saya masih muda, saya suka berpikir bahwa saya ingin menjadi seperti ini, dan seperti itu ketika dewasa nanti. Sayangnya saya enggak membuat list mengenai impian saya dan menjabarkannya satu per satu. Jadi saya enggak bisa membuat evaluasi yang konkret untuk hidup saya yang akan memasuki tahun ke 51 ini. Tapi kalau saya pikir-pikir, paling-paling impian saya yang terwujud baru 10-15 persen. Sisanya sebanyak 90-85 persen masih bisa saya jabarkan, tapi buat apa? Bukan karena sudah terlambat (saya nggak mengenal kata terlambat untuk sebuah proses hidup), tapi di usia seperti ini, saya lebih menghargai hal yang telah saya raih ketimbang masih terus bermimpi dan berangan-angan.

Saya mencoba menanamkan metode yang simpel pada ketiga anak saya Andhika, Adhit dan Abhi mengenai cita-cita masa depan. Mereka sudah mendapatkan banyak bekal dari almarhum ayahnya, tugas saya adalah menjaga dan menyempurnakan agar cita-cita itu tetap ada dan dapat diwujudkan. Ini bukan mengenai bagaimana menjadi attorney (Andhika & Abhi) atau engineer (Adhit) yang sukses, tapi bagaimana agar keluarga berjalan sesuai dengan hakekatnya. Terus terang, saya mungkin tidak menjalankannya dengan terlalu baik, tapi saya pantang menyerah untuk membuatnya supaya lebih baik.

Kembali lagi ke "Menjelang 50", banyak yang bilang saya freakishly young for this age. I think so... Di saat pada usia 50 banyak perempuan yang belum mempunyai cucu, tahun ini cucu saya akan berjumlah 5 orang. Di sinilah saya merasa usia 50 tahun saya, bukanlah usia 50 tahun mama saya. Saya telah banyak meluangkan waktu saya untuk mendatangkan energi positif bagi kehidupan pribadi saya dan keluarga saya, apalagi setelah suami saya meninggal lebih dari 4 tahun yang lalu. Saya bukan ingin terlihat muda secara fisik, tapi muda secara mental/jiwa. Seperti yang pernah ditulis menantu saya Adinda dalam blog pribadinya: sampai berapapun usia akan ditambah, saya ingin spirit saya tetap muda.

Beberapa orang akan menyebut hal tersebut sebagai 'denial'. Tetapi bagi saya, saya masih berjalan di sekitar usia pertengah 30. That's how I feel. So, as I'm walking closer to the mid-century mark this year, I have decided that I am very ready to turn 50 this year.

Selasa, 07 April 2009

Halo...

Hi there.... :) Nama saya mungkin familiar di blog anak saya Adhit dan istrinya Adinda. Sejak saya menjadi pembaca setia blog mereka, tiba-tiba saya pernah tergerak untuk menulis blog juga, namun belum saya kerjakan sampai sore ini. Banyak hal yang membuat saya mengurungkan niat saya itu, antara lain saya merasa sudah terlalu tua untuk hal beginian. Tapi saya pikir-pikir sih kita nggak pernah terlalu tua untuk bercerita. Malah biasanya semakin tua semakin banyak cerita.

Nama saya Agnes, tapi karena pronunciationnya Anyez, saya jadi sering nulis nama saya sendiri seperti itu. Emma, adalah panggilan pertama saya sebagai seorang nenek, berasal dari kata Gramma, tapi biar sedikit gaya diubah aja jadi Emma he he... Sekian dulu opening dari saya. Semoga blog ini bisa menjadi sarana saya mencurahkan uneg-uneg, merekam manis dan pahitnya hidup, hingga menjadi media komunikasi saya dengan dunia luar.