Kamis, 12 September 2013

Saya, kasih sayang seorang perempuan, pecinta abadi, dan kanker

Saya tidak lupa kalau saya punya blog, hanya saja meninggalkan jejak kaki dalam sebuah blog bukan preferensi utama saya karena saya lebih senang meniti kembali hidup saya dalam sebuah tulisan. Gambar. Bukan tulisan.

Tetapi, ada kalanya gambar hanya dipahami oleh saya seorang pelukis. Berbeda dengan tulisan yang lebih mudah menghantarkan pesan. Ada ratusan gambar yang pernah saya buat dan saya yakin... tidak lebih dari 10 gambar yang mampu dipahami oleh anak-anak saya. Maka suatu hari saya membuat blog ini, mulai mencoba untuk menulis supaya anak-anak saya bisa membaca 'lukisan hati' saya ini.

Saat ini 10 tahun telah berlalu sejak papa (suami saya) meninggal. Sudah bertahun-tahun pula anak-anak saya meminta saya untuk membuka hati pada orang lain. Saya ikhlas suami saya pergi... tetapi saya tidak kehilangan papa karena saya selalu melihat papa 'hidup' di dalam ketiga anak kami. Saya tidak kehilangan... untuk apa saya mencari seorang pengganti?

Ada kalanya saya menangis sendiri karena Andhika, Adhit dan Abhi memilih untuk tinggal di luar Indonesia dan akhirnya membawa saya dalam kesepian malam. Tetapi obat rindu berupa telepon tengah malam, BBM, atau whatsapp akhirnya mengobati semua. Mama cukup hidup dengan itu. Mama bangga terhadap anak-anak mama. Hanya satu keinginan mama sebelum mama 'pergi', mama ingin putra bungsu mama (Abhi) berkeluarga. Alhamdulillah, Abhi telah berkeluarga.

Saya bersyukur diberikan keturunan yang sehat, cantik juga ganteng. Setelah ketiga anak saya laki-laki, akhirnya saya juga mendapatkan banyak cucu perempuan (dan seorang cucu perempuan lagi!). Saya pergi ke amerika (tempat Andhika) untuk memastikan dia menjaga dan merawat keluarganya seperti papa merawat keluarga kami dulu. Saya pergi ke belanda (tempat Adhit untuk melakukan hal yang sama). Dan akhirnya saya pun mendapatkan 'surprise' terakhir dari Abhi saat dia memutuskan untuk menikah. Do'aku dijabah Allah... Papa... seandainya kamu ada di sini...

Hidup saya bahagia... Ya, meskipun saya baru berusia 44 saat ditinggal oleh papa (papa berusia 13 tahun lebih tua) hidup saya penuh kasih sayang dari Allah. Dengan sedikit teguran dan musibah saya merasakan betapa Allah sangat sayang pada saya. Dengan memisahkan anak saya berpuluh ribu kilometer dengan saya, saya jadi lebih mengerti arti pertemuan. saya lega dan bahagia, meski akan lebih bahagia lagi jika papa ada di sini melihat anak-anaknya tumbuh.

Mereka memang masih baru menyelami kehidupan berumah tangga tetapi saat mereka mengucapkan ijab qabul, saya sepenuhnya menyerahkan masa depan mereka pada mereka masing-masing. Saya tetap seorang ibu, mereka tetap anak-anak saya, tetapi hanya kasih sayang yang akan tetap kami jalin, di luar itu mereka bebas mengepakkan sayapnya masing-masing.

Hari ini tepat tiga puluh hari setelah saya didiagnosa menderita kanker rahim. Stadium III. Saat menantu saya Adinda menangis, saya menghapus air matanya dan berkata pada dia "Mama tidak akan menyerah... tapi waktu mama untuk mengasuh Adhit memang sudah selesai. Sekarang giliran kamu." Memang seperti itu adanya... Saat anak-anakku mengucapkan ijab qabul, berakhir sudah waktuku untuk mengasuh mereka. Mereka akan menanggung hidup istrinya, dosa-dosanya, maka berbaktilah istri-istrinya pada anak-anakku.

Untuk papa... cinta hanya sebuah kata-kata yang sulit ditunjukkan dengan perbuatan selain kesetiaan. Pada akhirnya kesetiaanlah yang akan berdiri di atas cinta mengalahkan segalanya. Namun aku di sini tidak mendapatkan pengganti bukan karena aku setia... tetapi cintaku untuk papa memang tidak pernah padam. Tidak akan pernah padam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar