Sambil membaca tulisan terakhir Maya (misswhadevr.blogspot.com) kemarin saya seperti meniti kembali masa 35 tahun silam dimana saya masih di akhir masa remaja dan menjalin hubungan dengan laki-laki matang & mapan berusia 13 tahun lebih tua dari saya. Sungguh sebuah hubungan yang mustahil dan penuh dengan rintangan. Tetapi saat itu ada satu hal yang membuat saya mampu membulatkan tekad untuk menikah pada umur 20 tahun yaitu sebuah kata bernama 'Pengabdian'.
Saya mengenai Maia lebih dari 10 tahun lalu saat dia menjadi pacar pertama yang dikenalkan oleh salah satu anak saya. Harapan saya untuk punya anak perempuan tidak terwujud, maka kehadian Maya saat itu membuat saya seperti merasa mendapatkan hadiah yang tertunda. Saya melihat banyak kesamaan antara saya dan Maya baik dulu dan sekarang. Dimatanya selalu terpancar rasa bangga saat bercerita tentang hubungan dengan pacarnya (baik waktu pacarnya anak saya ataupun sesudahnya) dan di dalam ceritanya ada unsur 'Pengabdian'. Sungguh aneh rasanya saat melihat dia sudah tumbuh besar, mapan, berkarir namun masih ada unsur 'Pengabdian' kepada laki-laki yang mungkin akan menjadi calon pendamping di hidupnya.
Dia menamakannya sebagai 'break up'... akhir dari hubungannya dengan seseorang. Saya menempatkan diri saya dan mencoba merasakan apa yang ia rasakan. Ah ia pasti sedih... tidak ada wanita yang berharap hubungannya kandas. Perasaan sedih disusul dengan pertanyaan yang sering kali diulang hingga mendapatkan jawaban yang puas... "Apa salahku? Apa yang kurang dari diriku?" seolah-olah memutar balik semua pengorbanan yang telah ia lakukan untuk mantan kekasihnya saat dulu masih bersama-sama. Pastinya hatinya sakit tersayat... ia hanya mencoba tegar dengan tersenyum pada semua orang agar air matanya tidak tumpah dan ia tidak terlihat lemah.
Sama seperti wanita kebanyakan dan juga saya yang pernah muda... ia pasti menyimpan amarah. Marah atas kejadian ini. Menyesal... mungkin... tetapi ia akan memaksakan diri untuk tidak merasa menyesal. dan mungkin sebelum tidur ia akan berdo'a agar Allah melepaskan rasa sakit dari hatinya, beban dari pundaknya dan pikiran negatif dari kepalanya sehingga ia bisa bekerja dengan baik keesokan harinya.
Mungkin... pada banyak kesempatan... ia bertanya-tanya... apakah hikmah di balik semua ini?
Memiliki 3 orang putra membuat saya selalu mewanti-wanit mereka betapa 'vulnerable' nya hati seorang perempuan. Jangan disakiti, dan lindungilah hati mereka. Jangan memberikan harapan palsu, jangan nodai jiwa raganya, jangan lukai cintanya sampai ia menangis. Saya pernah bilang pada Abhi, satu-satunya waktu dimana wanita menangis karena kamu, adalah saat kamu meletakkan cincin di jari manisnya.
Untuk wanita yang dipatahkan hatinya... Badai akan berlalu suatu saat... Seorang wanita akan menemukan laki-laki yang layak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya. Mungkin orang lain, mungkin orang lama yang akan kembali, atau mungkin dia yang membuatmu saat ini menangis.
Namun untuk sekarang, biarkan ia berpikir sampai ia sadari hal-hal apa yang akan ia lewatkan dengan melepaskanmu...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar